DEFINISI
Dalam kaitannya dengan perilaku konsumen, budaya dapat didefinisikan sebagai
sejumlah total dari beliefs, values, dan customs yang dipelajari yang ditujukan pada
perilaku konsumen dari anggota masyarakat tertentu.
Lebih luas lagi, baik values maupun beliefs merupakan konstruk mental
yang mempengaruhi sikap yang kemudian berpengaruh terhadap
kecenderungan seseorang untuk bertindak terhadap perilaku
tertentu.Contohnya : seseorang memilih antara merk jam guess atau
Alexander Christtie ketika memilih, dia akan menggunakan values dan
beliefs yang berupa persepsi terhadap kualitas yang akan didapat dan
persepsi mengenai seberapa terkenal dan banyaknya orang yang menggunakan
produk tersebut.
Berbeda dengan values dan beliefs yang menjadi pedoman
berperilaku,customs atau kebiasaan terdiri dari perilaku rutin
sehari-hari yang merupakan cara berilaku yang dapat diterima. Contohnya :
memberikan bubuk sirup kedalam gelas berisi air putih.
Dengan memahami beberapa bentuk budaya dari masyarakat, dapat
membantu penjual atau produsen dalam memprediksi penerimaan konsumen
terhadap produk mereka. Mulai dari bagaimana tanggapan konsumen, reaksi
konsumen, ataupun kritik dari konsumennya. Pengaruh budaya sangat alami
dan otomatis sehingga pengaruhnya terhadap perilaku sering diterima
begitu saja, atau dalam kata lainnya pengaruh ini sangat tidak disadari
oleh masyarakat, barulah ketika kita berhadapan dengan masyarakat yang
memiliki budaya, nilai dan kepercayaan yang berbeda dengan kita, kita
baru menyadari bagaimana budaya telah membentuk perilaku kita. Yang
kemudian akan muncul apresiasi terhadap budaya kita sendiri bila kita
berhadapan dengan budaya yang berbeda. Misalnya, di budaya yang bisa
melakukan pernikahan sesame jenis tentu akan merasa bahwa itu budaya
yang tidak masuk akal dan merupakan hal yang tidak baik dibandingkan
dengan budaya yang memang melarang keras hubungan sesama jenis.
Konsumen melihat diri mereka sendiri dan bereaksi terhadap lingkungan
mereka, karena setiap individu mempersepsikan dunia dengan pendapat dan
cara pandang masing- masing.Singkatnya, budaya dapat memuaskan
kebutuhan, budaya bisa dipelajari, dan yang paling penting adalah budaya
berkembang, karena semakin berkembangnya budaya atau yang biasa kita
dengar dengan istilah Up To Date maka akan semakin berkembang pula daya
beli seseorang.
MITOS DAN RITUAL KEBUDAYAAN
Kehidupan kita tidak terlepas dari kebudayaan yang merupakan aktualisasi
interaksi antar unsur yang mengisi setiap segi kehidupan. Hasil
aktualisasi ini kemudian menjadi pegangan kehidupan bagi generasi
berikutnya. Seiring berjalannya waktu, banyak dari kebudayaan ini
mengalami modifikasi bahkan hilang. Salah satu penyebab dari hal ini
yaitu pemikiran manusia yang semakin rasional sehingga mereka berusaha
untuk mencari jawaban dari berbagai ritual budaya tersebut. Mitos
merupakan dasar dari kebudayaan, dimana kata mitos berasal dari bahasa
Yunani yaitu muthos yang berarti cerita atau sesuatu yang dikatakan
seseorang. Mitos memiliki keunikan
dan
perbedaan mendasar dari cerita rakyat, didalam mitos terkandung makna –
makna yang dihadirkan lewat simbol – simbol yang mengungkap asal – usul
masyarakat. Namun mitos bukanlah suatu cerita sejarah karena tidak
memuat unsur ruang dan waktu tertentu.
Kehadiran mitos bisa berbeda mengikuti kekhasan budaya pada suatu
tempat, pada mulanya mitos merupakan salah satu cara untuk menyampaikan
pedoman dan arah kehidupan masyarakat. Dimana mitos menceritakan proses
perubahan suatu keadaan, dunia kosong menjadi berpenghuni, asal – usul
manusia, binatang dan tumbuhan sehingga dengan cerita ini mitos memiliki
fungsi sebagai sarana untuk melindungi dan memperkuat moralitas,
keyakinan dan kepercayaan serta peraturan – peraturan lain sebagai
tuntunan masyarakat. Namun dewasa ini, mitos tidak lagi mampu
menyampaikan makna yang sesungguhnya. Pandangan mitos sekarang ini hanya
sekedar pemaknaan dangkal dan hanya mewakili dari yang tampak.
Sayangnya keadaan ini sudah berlangsung lama dan menjadi konsumsi massa.
Memang hal klasik yang terjadi di dunia adalah salah dan benar, iya dan
tidak serta positif dan negatif. Begitupun yang terjadi dengan mitos
yang kemudian dalam perkembangannya lebih mengarah kearah yang negatif.
Masyarakat yang merupakan komunitas “pengguna” mitos, diwajibkan oleh
penguasa untuk mempertahankan mitos yang sudah dimodifikasi sedemikian
rupa sehingga unsur pengagungan dan kesetiaan yang berlebihan menjadi
sangat kental. Kepatuhan masyarakat merupakan sarana politik yang
berperan untuk menjalankan kepentingan penguasa. Mitos memiliki daya
tarik yang kuat, masyarakat “menelan” nilai – nilai ini tanpa
pertimbangan dengan anggapan itu berfungsi juga sebagai pengungkapan
kepentingan mereka (masyarakat). Contohnya adalah mitos raja sebagai
keturunan dewa, raja digambarkan keluar dari laut yang terbelah atau
turun dari gunung yang tinggi. Raja juga biasanya memiliki simbol, baik
berupa benda seperti keris, tongkat, bendera dan mahkota. Maupun simbol
berupa kekuatan magis yang sakti dan identik dengan fungsinya sebagai
penguasa. Hal ini merupakan salah satu cara penguasa untuk memberikan
legimitasi dan eksistensi kekuasannya.
BUDAYA DAN KONSUMSI
Produk mempunyai fungsi, bentuk dan arti . Ketika konsumen membeli suatu
produk mereka berharap produk tersebut menjalankan fungsi sesuai
harapannya, dan konsumen terus membelinya hanya bila harapan mereka
dapat dipenuhi dengan baik. Namun, bukan hanya fungsi yang menentukan
keberhasilan produk . Produk juga harus memenuhi harapan tentang norma,
misalnya persyaratan nutrisi dalam makanan, crispy (renyah) untuk
makanan yang digoreng, makanan harus panas untuk ‘steak hot plate’
atau dingin untuk ‘ agar-agar pencuci mulut’.Seringkali produk juga
didukung dengan bentuk tertentu untuk menekankan simbol fungsi seperti ‘
kristal biru’ pada detergen untuk pakaian menjadi lebih putih. Produk
juga memberi simbol makna dalam masyarakat misal “ bayam” diasosiasikan
dengan kekuatan dalam film Popeye atau makanan juga dapat disimbolkan
sebagai hubungan keluarga yang erat sehingga resep turun temurun
keluarga menjadi andalan dalam memasak, misal iklan Sasa atau Ajinomoto.
Produk dapat menjadi simbol dalam masyarakat untuk menjadi ikon dalam
ibadat agama.
Budaya merupakan sesuatu yang perlu dipelajari, karena konsumen tidak
dilahirkan spontan mengenai nilai atau norma kehidupan sosial mereka,
tetapi mereka harus belajar tentang apa yang diterima dari keluarga dan
teman-temannya. Anak menerima nilai dalam perilaku mereka dari orang tua
, guru dan teman-teman di lingkungan mereka. Namun dengan kemajuan
zaman yang sekarang ini banyak produk diarahkan pada kepraktisan, misal
anak-anak sekarang lebih suka makanan siap saji seperti Chicken Nugget,
Sossis, dan lain-lainnya karena kemudahan dalam terutama bagi wanita
yang bekerja dan tidak memiliki waktu banyak untuk mengolah makanan.
Kebudayaan juga mengimplikasikan sebuah cara hidup yang dipelajari dan
diwariskan, misalnya anak yang dibesarkan dalam nilai budaya di
Indonesia harus hormat pada orang yang lebih tua, makan sambil duduk
dsb. Sedangkan di Amerika lebih berorientasi pada budaya yang mengacu
pada nilai-nilai di Amerika seperti kepraktisan, individualisme, dsb.
Budaya berkembang karena kita hidup bersama orang lain di masyarakat.
Hidup dengan orang lain menimbulkan kebutuhan untuk menentukan perilaku
apa saja yang dapat diterima semua anggota kelompok. Norma budaya
dilandasi oleh nilai-nilai, keyakinan dan sikap yang dipegang oleh
anggota kelompok masyarakat tertentu. Sistem nilai mempunyai dampak
dalam perilaku membeli, misalnya orang yang memperhatikan masalah
kesehatan akan membeli makanan yang tidak mengandung bahan yang
merugikan kesehatannya.
STRATEGI PEMASARAN DENGAN MEMPERHATIKAN BUDAYA
Beberapa strategi
pemasaran bisa dilakukan berkenaan dengan pemahaman budaya suatu masyarakat.
Dengan memahami budaya suatu masyarakat, pemasar dapat merencanakan strategi
pemasaran pada penciptaan produk, segmentasi dan promosi.
Beberapa perubahan
pemasaran yang dapat mempengaruhi kebudayaan, seperti :
a. Tekanan pada kualitas
b. Peranan wanita yang berubah
c. Perubahan kehidupan keluarga
d. Sikap yang berubah terhadap kerja dan kesenangan
e. Waktu senggang yang meningkat
f. Pembelian secara impulsif
g. Hasrat akan kenyamanan